Esports Gagal Masuk di Olimpiade, Ini Penjelasannya

Esport yang digadang gadang akan masuk sebagai salah satu cabang yang dipertandingkan di Olimpiade ternyata gagal masuk ke dalam ajang olahraga paling bergengsi itu. Awalnya banyak yang mengkhawatirkan mengenai konten kekerasan dalam esports, namun ternyata bukan cuma itu saja yang membuat esports gagal masuk di Olimpiade, inilah penjelasan dari komite olimpiade mengenai keadaan ini.

Pergerakan esports yang semakin serius ke arah lebih profesional membuat esports mulai disetarakan dengan olahraga tradisional, ini dikarenakan latihan yang tidak kalah keras untuk dapat mempertahankan konsentrasi dalam satu pertandingan. Inilah yang kemudian mendasari para pegiat esports kemudian mengajukan supaya esports dapat masuk ke dalam Olimpiade untuk menjadi salah satu cabang yang dipertandingkan.

esports gagal masuk di Olimpiade

Namun pengajuan esports untuk menjadi salah satu cabang yang dipertandingkan dalam olimpiade ini akhirnya malah menuai kecaman dari IOC (International Olympic Committee). Thomas Bach, Presiden IOC kemudian mengungkapkan alasan mengapa esports gagal masuk di Olimpiade.

Menurut Thomas Bach, alasan pertama adalah konten yang dipertandingkan dianggap tidak sejalan dengan nilai nilai yang ada, merujuk pada pernyataannya beberapa bulan yang lalu kalau dalam esports terlalu banyak mempertontonkan konten kekerasan seperti ledakan dan juga membunuh satu sama lain.

Tapi Thomas mengungkapkan kalau konten kekerasan ini bukanlah hal utama mengapa esports gagal masuk di Olimpiade. Thomas kemudian mengungkapkan penyebab utamanya adalah tidak adanya satu federasi esports yang dapat berlaku secara global. Dengan kata lain IOC menganggap kalau federasi esports internasional yang ada sekarang, IeSF (International e-Sport Federation) masih dianggap jauh dari kriteria tersebut dan kurang bisa mengurusi esports secara global.

esports gagal masuk di Olimpiade

Atau bisa juga IOC menganggap kalau esports dibawah naunga IeSF masih terlalu dini untuk bergerak secara global lebih jauh lagi seperti yang dikatakan dalam konferensi IOC di Lausanne, Swiss. Dalam konferensi itu IOC ada sebuah pembahasan mengenai potensi esports, dan dalam konferensi ini semua setuju kalau dalam esports mempunyai sebuah potensi besar untuk menjadi sebuah cabang olahraga yang dipertandingkan dalam Olimpiade.

Apalagi dalam berberapa tahun terakhir, esports diberitakan berkembang sangat pesat dengan berbagai turnamen internasional berkelas seperti salah satunya adalah The International. Perkembangan esports ini bergerak sangat cepat di banyak negara, dan IOC menganggap kalau perkembangan yang sangat pesat ini bisa untuk membantu mengenalkan mereka terhadap Olimpiade.

Bahkan semua peserta juga setuju dengan menganggap kalau esports adalah sebuah olahraga, karena mereka menganggap kalau sebenarnya esports tidak berbeda jauh dengan olahraga tradisional, ini dikarenakan adanya persiapan persiapan baik tekhnik dan fisik yang membuat kompetisi kompetisi esports tidak jauh berbeda dengan olahraga tradisional pada umumnya.

esports gagal masuk di Olimpiade

Jadi dengan keputusan ini sebenarnya bukan berarti esports gagal masuk di Olimpiade tapi lebih tepatnya penundaan sementara hingga IeSF benar benar siap untuk menaungi dan mengurusi esports secara global. Di regional Asia sendiri esports sudah resmi tampil di Asian Games sebagai salah satu cabang yang dipertandingkan, walaupn sebagai cabang olahraga demonstrasi, tapi ini adalah sebuah lompatan besar dalam dunia esports.

Nantikan terus perkembangan esports hanya di kabar games!

Galaxy Battles 2018 Terancam Gagal Diselenggarakan

Beberapa tahun ke belakang ini, penyelenggara eSports Filipina telah menjadi bagian penting dari DotA Pro Circuit. Ini berkat keberhasilan penyelenggaraan di negara tersebut dalam 2 tahun terakhir. ESL One Manila, the Manila Masters, dan juga Manila Major sukses diselenggarakan. Sukses sebelumnya, menjadikan eSports di Filipina dipercaya menyelenggarakan turnamen Galaxy Battles 2018.

Akan tetapi, belum diselenggarakan, Galaxy Battles 2018 mendapatkan berita buruk karena turnamen ini terancam gagal diselenggarakan. Valve dengan keputusan matang telah memutuskan bahwa turnamen ini tidak akan disponsori oleh mereka, setelah pemerintah setempat memaksakan peraturan yang tidak disukai Valve.

Galaxy Battles II Emerging Worlds

Games and Amusement Board (GAB) selaku organisasi pemerintah yang menaungi olahraga dan mengatur kompetisinya di Filipina telah menyatakan bahwa eSports masuk ranah mereka. Oleh karenanya harus mengikuti aturan mereka. Setiap atlit eSports, selayaknya olahraga biasa, harus mempunyai lisensi yang dikeluarkan GAB untuk dapat berkompetisi di Filipina.

Valve menganggap keputusan tersebut tidak masuk akal, sehingga menarik sponsor-nya. Dengan begitu status turnamen Mayor Galaxy Battles 2018 dicabut dan bukan termasuk ke dalam DotA Pro Circuit. Kemenangan dalam turnamen ini tidak menghasilkan poin yang penting untuk tim pro games MOBA DotA 2 agar dapat berlaga di The International 8.

Keputusan Valve Prihal Galaxy Battles 2018

Kami sudah membuat keputusan untuk membatalkan penunjukan utama terhadap turnamen tersebut,” ucap Valve dalam sebuah posting yang dirilis di situs resmi Dota 2.

Keputusan ini didasari dari apa yang kami rasa sebuah pelanggaran yang tak masuk akal atas privasi para pemain tim pro DotA 2, di mana itu menjadi sebuah syarat agar dapat memasuki negara ini,” tambah Valve.

Valve tidak merinci “pelanggaran yang dianggap tidak masuk akal bagi mereka”, tetapi beberapa tokoh komunitas game mengira bahwa hal yang tidak masuk akal dan mengganggu privasi adalah merujuk kepada tes obat terlarang dan narkoba. Perkiraan itu didasarkan atas salah satu syarat  untuk mendapatkan lisensi GAB adalah dengan lulus pada tes obat-obat terlarang dan narkoba.

Galaxy Battles II Emerging Worlds sendiri telah dijadwalkan akan diselenggarakan pada tanggal 15-19 Januari 2018, di Philippine Arena, provinsi Bulacan. Meski tanpa didukung finansial dan keuntungan lainnya dari Valve, Galaxy Battles II Emerging Worlds masih diizinkan untuk diselenggarakan hingga selesai.

Sebelum peristiwa ini terjadi, Virtus Pro telah mengundurkan diri dari acara ini. Dengan adanya keputusan Valve ini, dikhawatirkan tim yang sudah diundang untuk berlaga di Galaxy Battles II Emerging Worlds akan banyak yang mengundurkan diri. Jika terjadi, maka Galaxy Battles II Emerging Worlds akan gagal diselenggarakan.

Galaxy Battles 2018 Trailer

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=AwPlcJDai3M[/embedyt]

Untuk diketahui bahwa Galaxy Battles II Emerging Worlds adalah turnamen internasional Galaxy Battles yang kedua. Kejuaraan ini dijadwalkan akan diadakan di Manila, Filipina. Enam belas tim direncanakan akan bersaing untuk mendapatkan total  hadiah $ 500.000 USD. Tadinya, turnamen internasional ini merupakan bagian dari Dota Pro Circuit. Namun, status Mayor pada turnamen ini dilepas oleh Valve pada tanggal 4 Januari.

Galaxy Battles adalah turnamen pendahulu dari Galaxy Battles 2018. Jika Galaxy Battles 2018 diselenggarakan oleh Fallout Gaming dan Purpose Win, pendahulunya ini diselenggarakan oleh NeoTV, Syber, Fallout Gaming dan Purpose Win. Tidak seperti seri keduanya, turnamen ini hanya diikuti 8 tim yang masing-masing terbagi atas empat tim undangan, dan empat tim pemenang kualifikasi. Kejuaraan diselenggarakan pada 15-18 Juni 2017, dan bertempat di Shenzhen Bay Sports Centre Stadium, Shenzhen.

DotA Pro Circuit adalah turnamen yang diakui Valve yang dibagi menjadi 2 kategori turnamen internasional, yakni Mayor dan Minor berdasarkan jumlah total hadiah yang diberikan. Selain diakui, turnamen-turnamen ini dibantu kehadirannya oleh Valve baik dengan sebagian pendanaan dan juga penyelenggaraan.

Gagal Lolos, CEO Rilis Pernyataan Prihal Skuad Navi TI8

Kesedihan sedang melanda skuad Navi TI8 setelah mereka dipastikan tidak lolos ke babak kualifikasi tertutup The International 8 wilayah CIS. Peristiwa ini menandakan bahwa mereka tidak dapat berlaga di ajang utama turnamen internasional TI8. Dengan gagalnya Navi ke TI8, menandakan tim e-Sports DotA 2 tersebut sudah dua tahun berturut-turut tidak mampu ke event utama The International.

Skuad Navi TI8

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=UfKyQUTJ7Tk[/embedyt]

Dengan berakhirnya kesempatan bertanding di ajang pamungkas games MOBA DotA 2, The International 8, nasib skuad Navi TI8 tidak menentu. Namun, berkat curhatan Danil “Dendi” Ishutin, CEO Navi akhirnya membuat pernyataan tentang keputusannya akan masa depan skuad Navi TI8.

Pernyataan CEO Navi

Setelah curhatan Danil “Dendi” Ishutin viral di Reddit, Yevhen “Harispilton” Zolotarov selaku CEO Navi langsung membuat pernyataan mengenai Navi secara keseluruhan, dan skuad Navi TI8 lewat video. Ada 3 poin penting yang dibahas, yakni pergantian LeBron, masa depan Navi, dan kondisi kedepannya dari skuad Navi TI8

Terkait pergantian LeBron sebelum kualifikasi TI8 Navi berakhir, Harispilton mengatakan bahwa pergantian tersebut merupakan kesalahan seluruh anggota tim dan juga dirinya dalam mengambil keputusan.

 “Berkaitan dengan LeBron, pergantian dirinya bukan lah karena dia tidak sesuai dengan tim atau pemain yang lemah. Meski ada kekurangan pada skill kontrol mikro, tetapi pergantian dirinya lebih berkaitan dengan keegoisan dirinya di dalam dan di luar permainan.

Dendi membahas masalah ini pada curhatannya di Twitter, dan memang betul bahwa dia tidak menyetujui pergantian LeBron. Bahkan, hanya dia yang menentangnya. Oleh karena mayoritas sepakat bahwa LeBron bermasalah dan harus diganti, maka saya mengikuti suara terbanyak. Namun, mereka yang mengambil suara untuk mengganti LeBron tidak melihat kekurangan mereka juga, yakni malas.

LeBron sudah diminta untuk diganti sebelum Epicenter XL dimulai. Namun, saya tetap bersikeras tidak ada pergantian sebelum ajang itu selesai. Saya percaya jika pertandingan melawan Newbee memiliki hasil yang berbeda, maka tidak ada pergantian. Kemudian, Navi akan mendapat hasil yang lebih baik pada kualifikasi TI8.

Tanggung jawab ada pada semua orang: pemain, pelatih, analis, dan manajer. Namun, karena saya yang mengambil keputuan, maka saya juga bertanggung jawab.

Pernyataan Harispilton Mendepak Lebron

Harispilton menyebutkan harapannya akan masa depan Navi di eSports DotA 2. Ia mengatakan ingin memulai tim DotA 2 Navi yang baru via dua opsi yang dipandangnya bagus.

Ada dua opsi untuk membentuk Navi yang baru. Opsi pertama dengan menentukan satu orang kapten yang kuat seperti yang dilakukan CEO Virtus.Pro, Sneg1. Ia merekrut Solo, dan membebaskannya untuk bermain dengan pemain yang diinginkannya. Opsi kedua, dengan merekrut seluruh tim langsung. Meski tanpa kapten yang kuat, tetapi distribusi dalam permainan jelas. Contohnya seperti Winstrike.

Pernyataan Harispilton tentang Navi DotA 2

Terakhir Harispilton membahas nasib skuad Navi TI8, baik pemain, pelatih, manajer, dan juga analis. Ia mengatakan akan membuat keputusan setelah Agustus 2018.

Seluruh skuad Navi TI8 akan dinonaktifkan hingga Agustus. Namun, manajemen tidak akan mengumumkan pembubaran tim DotA 2. Sebagian berpikir, kami ingin melakukan trik “era baru” dengan mengumumkan tim yang sama dua bulan kemudian. Namun, itu bukan tujuan kami.

Jika kami menggunakan opsi kapten yang kuat, maka sebagian dari anggota kami mungkin ada yang cocok dengan pilihan itu. Bila menggunakan opsi merekrut pemain berdasarkan peran yang jelas, maka sebagian pemain kami juga ada yang tinggal.

Sangat sulit untuk memprediksi siapa pemain yang akan keluar, tetapi saya akan memberikan opini saya. Ada kemungkinan yang sangat kecil lebih dari satu pemain akan bertahan di dalam tim, karena kami ada keinginan untuk memulai semuanya dari nol.

Pernyataan Harispilton tentang Masa Depan Skuad Navi TI8

Melihat pernyataan Harispilton itu, seperti yang sudah-sudah, nampaknya hanya Dendi yang akan bertahan sebagai pemain dari skuad Navi TI8. Untuk jabatan lainnya, belum jelas akan terjadi pergantian seperti apa. Kalau kamu penasaran, tunggu kelanjutan berita tentang Navi di Kabargames!

AOV Asian Games 2018: China Juara, Indonesia Gagal

Pesta olahraga terbesar di Asia yang diadakan 4 tahun sekali, Asian Games, masih berjalan. Kini, cabang eSports sudah dimainkan. Dari enam games yang dipertandingkan, telah ada beberapa yang menghasilkan juara. Salah satunya adalah AOV Asian Games 2018.

Menjadi salah satu cabang olahraga eSports yang dipertandingkan di Asian Games 2018, Arena of Valor sudah digelar pada hari minggu 26 Agustus 2018. Games mobile genre MOBA ini menjadi pembuka dari eSports lainnya.

AOV Asian Games 2018

Tim eSports AOV Asian Games 2018

Arena of Valor merupakan sebuah permainan di smartphone yang bergenre MOBA. Permainan ini diproduksi oleh raksasa Internet dari China bernama Tencent. Games ini dimainkan oleh 10 pemain yang terhubung secara online. Sepuluh pemain tersebut bermain dengan cara memilih pahlawan unik untuk bertarung satu sama lain dalam rangka menghancurkan bangunan musuh, sehingga dapat memenangkan sebuah pertandingan.

Setelah menjadi games Play Store terpopuler 2017, AOV dipertandingkan pada cabang olahraga eksibis eSports bersama dengan FIFA 2018, League of Legends, Starcraft II, Clash Royale, dan Hearthstone. Pada Asian Games 2022, di Hangzou, China, eSports akan dipertandingkan sebagai salah satu cabang olahraga resmi. Arena of Valor bisa jadi akan dipertandingkan di sana kembali atau bisa juga tersisih.

Indonesia Ter-eliminasi

Tim Taiwan vs Indonesia dalam AOV Asian Games 2018

Pertandingan AOV Asian Games 2018 dilaksanakan di Britama Arena. Lawan pertama tim Indonesia adalah Taiwan. Negara yang menjadi bagian dari China daratan ini merupakan salah satu tim kuat Arena of Valor asal Asia. Tidak hanya berdasarkan statistik pemainnya, kekuatan tim Taiwan pun terbukti di petandingan. Taiwan bermain ciamik, sementara Indonesia bermain melempem. Indonesia kalah dengan mudah pada pertandingan best of 3 dengan skor 2-0.

Kekalahan dari Taiwan membuat Indonesia harus bertanding pada braket pecundang. Di braket pecundang, Indonesia melawan Thailand yang sebelumnya dikalahkan oleh China. Memiliki kemampuan yang sebelas dua belas dengan Thailand, Indonesia tetap kalah. Namun, kali ini perlawanan sengit diberikan. Glen Richard dan rekan kalah dengan skor 2-1. Kekalahan dari Thailand ini membuat tim Indonesia dieliminasi dari kejuaraan.

Setelah Indonesia tak mampu melanjutkan ke babak selanjutnya, Thailand, Laos, Taiwan, China, Hong Kong, dan Vietnam berebut gelar juara AOV Asian Games 2018. Dari keenamnya, 3 tim yang paling kuat adalah China, Vietnam, dan Taiwan.

Berdasarkan Tribunnews, kegagalan Tim Indonesia dipandang oleh pemainnya akibat kurang jam terbang, dan kurang tenang dalam pengambilan keputusan dalam permainan. Mereka pun meminta maaf kepada para fans yang sudah mendukung tim Indonesia. Ke depannya, mereka akan berlatih lebih keras agar bisa tampil lebih baik lagi dalam menghadapi tim dari luar negeri.

China Menjadi Juara

Pemenang AOV Asian Games 2018

Setelah menggelar babak demi babak, akhirnya, didapatkan lah juara AOV Asian Games 2018. Dalam cabang olahraga ini, China kembali mendominasi. Mereka, mendapatkan emas dari turnamen eSports ini. Titel juara pertama dari Arena of Valor disematkan untuk tim China. Berdasarkan CGTN News, tim China mengalahkan tim China Taipei atau Taiwan di final dengan skor 2-0. Atas kekalahannya, Taiwan dianugerahi medali perak. Untuk perunggu, medali tersebut diberikan kepada Vietnam yang mampu meraih posisi ketiga dalam kejuaraan ini.

Nah itu dia informasi terbaru seputar AOV Asian Games 2018. Buat kamu yang ingin update terus seputar eSports Asian Games, pantengin terus ya Kabar Games!

Deretan Dragon Ball Movie Live Action yang Keren + Gagal

Dragon Ball telah menjadi salah satu ikon manga dan anime terbaik sepanjang masa. Karya terbesar Akira Toriyama ini mendapat banyak perhatian para pecinta komik Jepang dan dunia, termasuk Indonesia. Sempat dibuat dalam versi Hollywood dan dianggap gagal, akhirnya sebuah serial pendek Dragon Ball Movie live action buatan fans pun dirilis.

Pertarungan seru ala anime Dragon Ball Z pun digambarkan ulang di dalamnya. Jurus-jurus yang menggunakan energi ki mulai dari terbang di udara hingga Kamehameha juga turut ditampilkan. Berikut ini adalah daftar Dragon Ball Movie Live Action buatan para penggemar yang super keren!

Dragon Ball Evolution 2009

https://www.youtube.com/watch?v=Ib1kfUvw_DA

Live action movie adaptasi Hollywood dengan judul Dragon Ball Evolution yang dirilis tahun 2009 adalah hasil karya sutradara James Wong dan penulis naskah Ben Ramsey. Film ini mengisahkan petualangan Son Goku dan Bulma yang mencari bola naga sehingga dapat mengabulkan segala permintaan.

Dalam perjalanannya, Son Goku bertemu dengan Cici dan bertarung dengan Piccolo yang mempunyai rencana jahat untuk menguasai dunia. Namun, film adaptasi Hollywood ini justru gagal mengangkat semangat komik maupun anime Dragon Ball versi Jepang. Evolution dikecam para penggemar Dragon ball karena dinilai melenceng sangat jauh dari Dragon ball original.

Film yang dibintangi Justin Chatwin sebagai Goku ini memperoleh rating sangat buruk. Di halaman IMDB, nilainya hanya 2,7 dari 10 poin, sementara para kritikus Rotten Tomatoes memberi rating 14 persen dari total 100 persen.

Dragon Ball Z: Light of Hope Pilot


Dragon Ball Z: Light of Hope Pilot adalah fans made project bagian pertama dari team online creative, Robot Underdog. Live action movie buatan penggemar yang mengadaptasi anime TV yang sangat populer, Dragon Ball Z: The History of Trunks. Film ini melibatkan nama-nama seperti Tyler Tackett (Android 17), Amy Johnston (Android 18), Anton Bex (Son Gohan), Jack Wald (Trunks), Ruthann Thompson (Bulma) dan Tim Neff yang mengisi suara Trunks Masa Depan.

Di serial pendek ini kita disuguhkan dengan berbagai macam atraksi super keren pertarungan Future Gohan bersama dengan Future Trunks melawan Android 17 dan 18. Bahkan di movie ini kita dapat melihat bagaimana transformasi Super Saiyan dari Gohan yang sangat ikonik bagi anak 90an.

Dragon Ball Z: Light of Hope 2 & 3

Masih dari pembuat film yang sama, Robot Underdog, ini adalah kelanjutan dari Pilot project yang pertama. Di movie ini bercerita mengenai bagaimana Gohan tewas di tangan Android 17 dan 18 dimana akhirnya kejadian tersebutlah yang mampu membuat Future Trunks mendapatkan perubahan transformasi Super Saiyan nya.

Namun banyak yang bertanya tanya, mengapa sang aktor yang memerankan Gohan di Pilot Project pertama tidak lagi muncul di movie selanjutnya. Berdasarkan penjelasan dari Robot Underdog, hal ini dikarenakan Anton Bex (Gohan lama) memiliki masalah pribadi yang sayangnya tidak bisa dijelaskan ke publik sehingga lebih memilih untuk tidak melanjutkan.

Dragon Ball Z: The Fall of Men


Live action movie buatan penggemar selanjutnya datang dari Black Smoke Films dengan judul Dragon Ball Z: The Fall of Men. Filmnya mengambil latar di masa Future Trunks. Namun Dragon Ball Z The Fall of Men berbeda dengan masa Future Trunks di manga. Di sepanjang film tak terlihat tanda-tanda keberadaan Android 17 dan 18, musuh bebuyutan Future Trunks versi manga.

Keduanya digantikan oleh ancaman Cell dengan wujud yang belum sempurna, dimana di awal filmnya dikisahkan peradaban manusia hampir punah dengan dikarenakan Cell telah menghisap hampir seluruh manusia. Jika di bandingkan antara Light of Hope vs The Fall of Men, Kabar Games lebih menyukai pertarungan epic yang terjadi antara Gohan melawan Android 17 dan 18 di movie Light of Hope.

Nah itulah tadi deretan Dragon Ball Movie Live Action yang oke punya, baik itu official atau buatan para penggemar (fans made). Menurut Kamu lebih keren yang mana nih? Nantikan terus berita terbaru dan terupdate seputar anime, gadget dan game hanya di Kabar Games!

8 Cara Mengatasi Top Up Gagal di Mobile Legends (ML)

Games mobile bergenre MOBA yang paling terkenal di Asia Tenggara, terutama Indonesia, adalah Mobile Legends Bang Bang. Meskipun terkenal, di dalam games yang dikembangkan oleh Moonton ini masih banyak terdapat permasalahan bug, lag, dan juga masalah teknisnya lainnya. Salah satu yang paling sering ditanyakan adalah permasalahan pembayaran di dalam games Mobile Legends. Oleh karena itu acapkali pemain games ini yang mencari cara mengatasi top up gagal di Mobile Legends, dan kali ini Kabar Games akan membahasnya.

Ada beberapa cara yang terekam oleh Kabar Games mengenai masalah pembayaran di Mobile Legends via Google Play Store. Oleh karena itu, Kabar Games akan mengeluarkan panduan cara mengatasi gagal top up di Mobile Legends berdasarkan permasalahan yang telah dikeluhkan oleh para pemain. Tidak lupa, karena pihak Mobile Legends juga mempromosikan top up lewat mitra resmi Codashop, maka Kabar Games menambahkan juga cara mengatasi permasalahan yang dihadapi di sana.

Clear Cache Google Play

Mobile Legends Kesulitan Dengan Layanan Google Play

Permasalahan ketika melakukan top up di Play Store adalah terjadi kegagalan pembayaran dan menerima notifikasi berupa Mobile Legends kesulitan dengan layanan Google Play. Jika menerima notifikasi Mobile Legends kesulitan dengan layanan Google Play, maka cara mengatasi masalah pembayaran Mobile Legends ini adalah dengan melakukan clear cache pada aplikasi Google Play Service dulu, dengan cara buka setting kemudian pilih lah aplikasinya. Setelahnya pencet tombol clear cache.

Update Google Play

Kalau masih tidak bekerja, bisa menggunakan cara kedua, yakni dengan keluar atau log out dari semua akun Gmail yang terhubung dengan smartphone kamu. Kemudian log in kembali dengan satu akun saja yang digunakan sebagai akun utama. Pastikan hanya akun Gmail utama ini yang log in di smartphone kamu. Lakukan juga cek pembaruan atau update pada aplikasi Google Play Account.

Factory Reset Smartphone

Apabila cara pertama dan kedua tidak berhasil, maka cara yang terakhir adalah menggunakan cara ekstrim berupa menekan tombol Factory Reset dari smartphone Kamu. Walaupun cara ini tidak di anjurkan oleh Kabar Games, tetapi seringkali cara ini berhasil dilakukan namun konsekuensinya semua data yang Kamu miliki di handphone akan terhapus juga.

Update Akun Gmail

Tak Bisa Bayar Pake Saldo Google Play

Top up atau pembayaran di Mobile Legends bisa juga bermasalah karena tak bisa bayar menggunakan saldo Google Play yang dimiliki. Peristiwa ini bisa terjadi dikarenakan terdapat bug pada aplikasi Google Play smartphone Kamu.

Untuk mengatasi masalah tak bisa bayar pake saldo Google Play yang dimiliki dapat dengan cara menyingkirkan seluruh akun Gmail dari smartphone kamu. Kemudian lakukan clear cache di Google Play Service. Kemudian tambahkan lagi akun Gmail yang terdapat saldo Google Play. Cek kembali apakah saldo sudah dapat digunakan atau belum.

Perbaiki Jaringan Koneksi

Hanya Muncul Icon Loading Ketika Pembelian

Masalah pembayaran di Mobile Legends dapat juga berupa hanya muncul ikon loading ketika pembelian sedang dilakukan. Untuk mengatasi masalah hanya muncul ikon loading ketika pembelian, kamu harus memastikan bahwa ketika melakukan pembelian menggunakan koneksi yang baik, dan koneksi yang kamu gunakan tidak terhalang oleh hambatan koneksi firewall.

Lebihkan Dana Pembelian

Pembayaran Gagal Padahal Dana Pulsa Pas

Masalah pembayaran Mobile Legends lainnya adalah pembayaran gagal padahal dana pulsa cukup. Prihal masalah ini, cara mengatasinya sangat sederhana. Pembayaran gagal padahal dana pulsa pas terjadi dikarenakan pembayaran via pulsa di Google Play mengenal sistem pengenaan pajak 10%. Jadi kamu harus menyediakan dana lebih senilai 10% dari total pembayaran yang harus kamu bayar.

Hubungi Customer Service Moonton

Pembelian Sukses Tapi Diamond Tidak Bertambah

Masalah pembayaran Mobile Legends lainnya adalah berupa notifikasi pembelian sukses tapi diamond tidak bertambah dan juga pemberitahuan seperti ini “Karena akun anda dalam bahaya, anda tidak dapat top up sekarang silahkan hubungi customer service“. Jika ini yang terjadi, maka kamu harus melakukan beberapa tindakan untuk dikirimkan ke pihak Moonton.

Tindakan yang dimaksud adalah segera hubungi bagian customer service Moonton untuk bantuan dan informasi dari masalah pembelian sukses tapi diamond tidak bertambah. Kamu dapat menghubungi CS Moonton, melalui in game dan atau email melalui alamat email [email protected]. Pastikan gunakan bahasa inggris.

Saat menghubungi, kamu harus memberikan informasi mengenai game, lakukan screenshot dari masalah kamu, dan jelaskan dengan detail mengenai masalah kamu. Kemudian kamu harus menunggu balasan dari CS. Kira-kira mereka akan membalas dalam waktu 3-9 hari.

Cara Mengatasi Codashop Error

Tak Bisa Bayar Pake Pulsa, ATM, dan Indomaret di Codashop

Permasalahan lainnya untuk masalah pembayaran Mobile Legends adalah tak bisa bayar pake pulsa (XL, Telkomsel, Indosat, Tri), ATM dan Indomaret di Codashop. Ada dua kemungkinan, terjadi masalah pembayaran ini, yakni karena masalah jaringan vendor pulsa, ATM dan Indomaret, kedua kendala teknis di pihak Codashop.

Jika memang tak bisa bayar pake pulsa, ATM dan Indomaret di Codashop karena masalah jaringan vendor, maka cara mengatasi top up gagal di Mobile Legends yang bisa kamu lakukan adalah menunggu hingga jaringan mereka kembali pulih. Apabila permasalahan kendala teknis di pihak Codashop yang terjadi, maka kamu harus menghubungi mereka lewat email, facebook messenger, dan atau nomor smartphone CS yang sudah tertera di situs.

Akhir-akhir ini banyak gamers yang mengeluhkan kegagalan melakukan top up di codashop. Untuk mengatasi hal tersebut selanjutnya akan di bahas tentang penyebab kenapa codashop error dan cara mengatasinya. Penyebab terjadinya error saat top up di codashop bisa di sebabkan oleh berbagai hal, bahkan jenis error yang terjadi juga berbeda beda. Berikut ini penyebab dan tips mengatasi error saat top up gagal melalui codashop.

  • Error 225 Codashop: Error 225 ini bisa disebabkan karena metode pembayaran yang tidak sesuai dengan operator yang digunakan. Atau mungkin kalian melakukan pembayaran menggunakan saluran pembayaran yang belum aktif. Jika hal ini terjadi, maka tunggu 15 menit lalu coba lakukan top up kembali, tapi kali ini pastikan operator yang dipilih sesuai dengan yang digunakan yah.
  • Error 227 Codashop: Error 227 ini terjadi karena kalian mencoba melakukan pembelian dengan nominal yang belum aktif di sistem codashop. Jika hal ini terjadi maka, coba top up kembali dengan memilih nominal yang berbeda.
  • Error 309 Codashop: Error 309 yang satu ini muncul ketika kalian menggunakan alamat IP yang sudah diblokir. Jika hal ini terjadi, coba restart smartphone kalian untuk yang menggunakan paket data mobile. Untuk yang menggunakan wifi, coba restart modem.
  • Error 312 Codashop: Error 312 biasanya terjadi dikarenakan nomor kalian telah menggunakan semua limit transaksi yang di perbolehkan. Jika hal ini terjadi di coba untuk melakukan transaksi dengan menggunakan nomor telepon lain, jika memang tidak ada nomor telepon lain yang bisa di gunakan, disarankan untuk mencoba melakukan transaksi lagi ke esokan harinya.
  • Error 414 Codashop: Saat melakukan top up pembayaran via potongan pulsa, error 414 bisa disebabkan oleh dua hal yaitu, no telepon yang kalian gunakan dalam masa tenggang atau jumlah pulsa yang kalian miliki tidak cukup untuk melakukan pembayaran. Jika hal ini terjadi, maka pastikan terlebih dahulu saldo pulsa cukup untuk melakukan pembayaran, dan pastikan juga nomor telepon dalam kondisi aktif, jika sudah, coba lakukan top up lagi setelah 15 menit.
  • Error 503 Codashop: Error 503 bisa disebabkan karena pihak codashop yang sedang melakukan maintenance pada halaman website tersebut, maka cobalah untuk melakukan top up kembali setelah dua jam berlalu.

Itulah beberapa informasi tentang penyebab kenapa codashop error dan cara mengatasinya. Jika kalian masih mengalami masalah saat top up melalui codashop. Kalian bisa coba buka laman resmi codashop, dan cari di menu help. Kalian akan mendapatkan informasi lebih mengenai masalah yang biasa terjadi pada codashop lengkap dengan cara mengatasinya. Jangan lupa baca juga artikel lainnya mengenai cara mengatasi top up gagal di Free Fire dari Kabar Games.

Demikian panduan cara mengatasi top up gagal di Mobile Legends, semoga membantu kamu dalam mengatasi masalah pembayaran di game ML via Google Play Store dan juga Codashop. Selain dari kedua situs itu, kamu bisa juga top up voucher game menggunakan aplikasi keagenan seperti Alphapay.

Proudly powered by WordPress | Theme: Looks Blog by Crimson Themes.